Oleh
Rudi Hartono
Bung Karno membe-dakan antara nasionalis sejati, yaitu nasionalis cintanya pada tanah-air itu bersendi pada pengeta-huan atas susunan eko-nomi-dunia dan riwayat, dan bukan semata-mata timbul dari kesombongan bangsa belaka, dengan nasionalis chauvinis. Me-nurut pendapatnya, nasio-nalis sejati akan terbuka untuk bekerjasama dengan golongan politik lain yang memiliki tujuan sama.
Demikian pula terhadap Islam, Bung Karno telah membedakan antara islam kolot dan islam sejati. “Selama kaum Islamis memusuhi faham-faham nasionalisme yang luas budi dan Marxisme yang benar, selama itu kaum Islamis tidak berdiri di atas Sirothol Mustaqim,” tulis Bung Karno.
Ditariknya pendekatan mengenai kesamaan antara Islam dan Marxisme, yaitu sama-sama bersifat sosia-listis, dan letakkannya mu-suh bersama bagi kedua-nya; kapitalisme (paham riba).
Sementara terhadap kaum Marxis, Bung Karno telah mengambil taktik perjuangan kaum marxis yang baru, yaitu “tidak menolak pekerjaan-ber-sama-sama dengan Nasio-nalis dan Islamis di Asia”. Untuk menyakinkan kaum marxis, Bung Karno meng-ambil contoh: Kita kini melihat persahabatan kaum Marxis dengan kaum Na-sionalis di negeri Tiong-kok; dan kita melihat per-sahabatan kaum Marxis dengan kaum Islamis di negeri Afganistan.
SESUAI DENGAN KEADAAN INDONESIA
Konsep persatuan di-antara tiga kekuatan itu tidaklah jatuh dari langit, ataupun dari imajinasi biasa dari Bung Karno, melainkan dipetik dari kenyataan real dari keada-an Indonesia.
Bung Karno adalah salah seorang dari berbagai tokoh gerakan pembeba-san nasional yang tidak menginjakkan kakinya di luar negeri, namun me-nyerap ilmu pergerakannya dari tokoh-tokoh terkemu-ka dunia pergerakan, se-perti Tjokroaminoto, Tjipto Mangungkusumo, dan lain-lain.
Pengetahuannya menge-nai marxisme didapatkan dari kuliah-kuliah atau ceramah-ceramah kaum sosialis Belanda, dan paling banyak didapatkan dari berbagai literatur marxis yang dibacanya.
Tetapi Bung Karno bukan seorang dogmatis, ia selalu berhasil meletakkan teori itu dalam syarat-syarat keadaan Indonesia dan dipergunakan untuk men-capai satu tujuan; Indonesia merdeka!
Demkian pula saat me-ngeluarkan konsep persa-tuan tiga kekuatan itu, Bung Karno telah meng-ambilnya dari kenyataan politik di Indonesia. Ba-gaimana Bung Karno bisa membangun konsepsi persatuannya:
Pertama, Bung Karno adalah orang yang paling tekun dalam mempelajari berbagai aliran politik dalam gerakan nasional Indonesia. Dalam penyelidi-kan dan pengamatannya secara langsung, ketiga aliran itulah yang mewakili perjuangan melawan kolo-nialisme dan mewakili pe-ngaruh luas di kalangan rakyat.
Bung Karno pernah menjadi anggota Sarekat Islam, meskipun tidak pernah terdaftar sebagai pengurus. Dia juga sering menemani Tjokroaminoto dalam menghadiri rapat-rapat akbar (vergadering) dan pertemuan-pertemuan.
Selain itu, ketika ber-aktivitas di Bandung, Bung Karno juga sangat dekat dengan tokoh nasionalis radikal, khususnya Tjipto Mangungkusumo, yang oleh belanda dikenal di-kenal sebagai ”elemen paling berbahaya dalam gera-kan rakyat di jawa.
Dari segi pemikiran, Bung Karno sangat dipengaruhi oleh nasionalis-nasionalis progressif, terutama Gan-dhi dan Sun Yat Sen. Dia juga bersentuhan dengan pemikiran nasionalis-nasionalis lain macam Maz-zini, Cavour, dan Garibaldi.
Terhadap gerakan komu-nis, Bung Karno sangat tekun mempelajari marxisme dan menyebut dirinya sebagai Marxis. Semasa di rumah Tjokroaminoto, Bung Karno telah berke-nalan dengan Snevleet, Baars, dan orang-orang Indonesia: Semaun, Musso, Tan Malaka, dan Alimin. Bahkan Bung Karno me-ngakui bahwa Marhaenis-me, hasil temuannya sen-diri, adalah marxisme yang dicocokkan dan dilaksana-kan menurut keadaan Indonesia.
Kedua, Bung Karno, se-perti juga kaum marxis pada umumnya, mengakui ada-nya kontradiksi tak terda-maikan antara kolonialis-me/imperialisme dengan rakyat Indonesia, atau dalam bahasa Bung Karno: pertentangan sana dan sini; sana mau kesana, sini mau ke sini.
Dengan begitu, tidak benar juga kalau dikatakan front persatuan ala Bung Karno ini terlalu eklektis, sebab pembedaan sini dan sana itu sudah merupakan sebuah pembedaan yang jelas, gamblang.
Rudi Hartono
Bung Karno membe-dakan antara nasionalis sejati, yaitu nasionalis cintanya pada tanah-air itu bersendi pada pengeta-huan atas susunan eko-nomi-dunia dan riwayat, dan bukan semata-mata timbul dari kesombongan bangsa belaka, dengan nasionalis chauvinis. Me-nurut pendapatnya, nasio-nalis sejati akan terbuka untuk bekerjasama dengan golongan politik lain yang memiliki tujuan sama.
Demikian pula terhadap Islam, Bung Karno telah membedakan antara islam kolot dan islam sejati. “Selama kaum Islamis memusuhi faham-faham nasionalisme yang luas budi dan Marxisme yang benar, selama itu kaum Islamis tidak berdiri di atas Sirothol Mustaqim,” tulis Bung Karno.
Ditariknya pendekatan mengenai kesamaan antara Islam dan Marxisme, yaitu sama-sama bersifat sosia-listis, dan letakkannya mu-suh bersama bagi kedua-nya; kapitalisme (paham riba).
Sementara terhadap kaum Marxis, Bung Karno telah mengambil taktik perjuangan kaum marxis yang baru, yaitu “tidak menolak pekerjaan-ber-sama-sama dengan Nasio-nalis dan Islamis di Asia”. Untuk menyakinkan kaum marxis, Bung Karno meng-ambil contoh: Kita kini melihat persahabatan kaum Marxis dengan kaum Na-sionalis di negeri Tiong-kok; dan kita melihat per-sahabatan kaum Marxis dengan kaum Islamis di negeri Afganistan.
SESUAI DENGAN KEADAAN INDONESIA
Konsep persatuan di-antara tiga kekuatan itu tidaklah jatuh dari langit, ataupun dari imajinasi biasa dari Bung Karno, melainkan dipetik dari kenyataan real dari keada-an Indonesia.
Bung Karno adalah salah seorang dari berbagai tokoh gerakan pembeba-san nasional yang tidak menginjakkan kakinya di luar negeri, namun me-nyerap ilmu pergerakannya dari tokoh-tokoh terkemu-ka dunia pergerakan, se-perti Tjokroaminoto, Tjipto Mangungkusumo, dan lain-lain.
Pengetahuannya menge-nai marxisme didapatkan dari kuliah-kuliah atau ceramah-ceramah kaum sosialis Belanda, dan paling banyak didapatkan dari berbagai literatur marxis yang dibacanya.
Tetapi Bung Karno bukan seorang dogmatis, ia selalu berhasil meletakkan teori itu dalam syarat-syarat keadaan Indonesia dan dipergunakan untuk men-capai satu tujuan; Indonesia merdeka!
Demkian pula saat me-ngeluarkan konsep persa-tuan tiga kekuatan itu, Bung Karno telah meng-ambilnya dari kenyataan politik di Indonesia. Ba-gaimana Bung Karno bisa membangun konsepsi persatuannya:
Pertama, Bung Karno adalah orang yang paling tekun dalam mempelajari berbagai aliran politik dalam gerakan nasional Indonesia. Dalam penyelidi-kan dan pengamatannya secara langsung, ketiga aliran itulah yang mewakili perjuangan melawan kolo-nialisme dan mewakili pe-ngaruh luas di kalangan rakyat.
Bung Karno pernah menjadi anggota Sarekat Islam, meskipun tidak pernah terdaftar sebagai pengurus. Dia juga sering menemani Tjokroaminoto dalam menghadiri rapat-rapat akbar (vergadering) dan pertemuan-pertemuan.
Selain itu, ketika ber-aktivitas di Bandung, Bung Karno juga sangat dekat dengan tokoh nasionalis radikal, khususnya Tjipto Mangungkusumo, yang oleh belanda dikenal di-kenal sebagai ”elemen paling berbahaya dalam gera-kan rakyat di jawa.
Dari segi pemikiran, Bung Karno sangat dipengaruhi oleh nasionalis-nasionalis progressif, terutama Gan-dhi dan Sun Yat Sen. Dia juga bersentuhan dengan pemikiran nasionalis-nasionalis lain macam Maz-zini, Cavour, dan Garibaldi.
Terhadap gerakan komu-nis, Bung Karno sangat tekun mempelajari marxisme dan menyebut dirinya sebagai Marxis. Semasa di rumah Tjokroaminoto, Bung Karno telah berke-nalan dengan Snevleet, Baars, dan orang-orang Indonesia: Semaun, Musso, Tan Malaka, dan Alimin. Bahkan Bung Karno me-ngakui bahwa Marhaenis-me, hasil temuannya sen-diri, adalah marxisme yang dicocokkan dan dilaksana-kan menurut keadaan Indonesia.
Kedua, Bung Karno, se-perti juga kaum marxis pada umumnya, mengakui ada-nya kontradiksi tak terda-maikan antara kolonialis-me/imperialisme dengan rakyat Indonesia, atau dalam bahasa Bung Karno: pertentangan sana dan sini; sana mau kesana, sini mau ke sini.
Dengan begitu, tidak benar juga kalau dikatakan front persatuan ala Bung Karno ini terlalu eklektis, sebab pembedaan sini dan sana itu sudah merupakan sebuah pembedaan yang jelas, gamblang.
Bung Karno sangat me-nyakini, bahwa jika ketiga kekuatan ini dapat disa-tukan dalam sebuah per-satuan, maka dia menjadi gabungan kekuatan yang maha dahsyat. Karena, menurut perhitungan Bung Karno, gabungan kekuatan ini meliputi 90% paling sedikit daripada seluruh rakyat Indonesia.
LAPANGAN PRAKTEK
Pada bulan September 1927, berpidato di hadapan peserta kongres Partai Sa-rekat Indonesia, Bung Kar-no telah mengusulkan untuk mendirikan semacam federasi di antara organi-sasi-organisasi pergerakan nasional.
Ide yang dilemparkan Bung Karno mendapat sam-butan luas, dan kepada Bung Karno diserahi tugas untuk merancang konsep persatuannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terimakasih!!!